PENGALAMAN BERKESAN DI DESA JAMBU BARU

Halo, sebelum kita masuk ke kesan dan pesan dari beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Sosiologi beserta volunteer dari mahasiswa Sosiologi juga dalam edisi Sosiologi Mengabdi pada tahun 2024, mari berkenalan dahulu dengan tim inti pengabdian dan divisi-divisi apa aja sih yang terlibat dalam program kerja ini. Inti pengabdian berisikan 7 orang diantaranya, ada ketua pelaksana yang akrab dipanggil Fariz, Maimunah sebagai Penanggung Jawab, Septi sebagai bendahara pelaksana, Usi sebagai sekretaris pelaksana, kemudian Maya sebagai koordinator konsumsi dan yang terakhir ada 2 koordinator lapangan yaitu Cahyo dan Abdalawi. Masuk ke divisi-divisi nya, yang pertama ada Divisi Lingkungan, Divisi Pendidikan, Divisi Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat (PSDM), dan yang terakhir adalah Divisi Media. Dari divisi-divisi yang sudah disebutkan tersebut tentu saja memiliki kegiatan yang mereka bawakan kepada masyarakat itu sesuai dengan output mereka masing-masing.

Saya Fariz, sebagai ketua pelaksana dari Sosiologi Mengabdi sekaligus pencerita pertama sebagai pembuka akan memaparkan beberapa kesan saya selama program kerja ini berjalan, sukanya adalah saya bisa belajar memanajemen suatu kepanitiaan dan bertemu dengan masyarakat secara langsung. Oh iya, pada tahun ini sosiologi mengabdi dilaksanakan di desa Jambu Baru, Kec. Kuripan, Kab. Barito Kuala. Memang sebelumnya ada survei ke beberapa desa, namun kesepakatan kami bersama memilih untuk di Desa Jambu Baru.

Secara akses Desa Jambu Baru memiliki jangka waktu yang cukup lama dan melibatkan kapal untuk menyeberangi sungai karena desa ini berada di seberang Sungai Barito. Selain itu, Jambu Baru juga memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Jambu baru itu terkenal dengan lahan Basah yang masih terjaga hingga saat ini, itu juga alasan kami mengambil desa itu sebagai tempat untuk pengabdian.

Terlalu banyak jika semua diceritakan disini. namun pada intinya, saya sangat berterimakasih dan juga berbangga kepada orang orang yang telah membersamai, baik sebelum acara dan saat acara berlangsung sampai selesai. Saya sangat bangga bisa bersama dengan mereka (Panitia Sosiologi Mengabdi 2024). Harapan saya untuk kedepannya terutama Sosiologi Mengabdi yaitu tetap terus berlanjut memberikan manfaat kepada masyarakat umum terutama masyarakat yang masih sulit untuk dicapai aksesnya.

Bermula pada tanggal 15 juli 2024, yang dimana adalah hari keberangkatan para anggota Himpunan Mahasiswa Sosiologi dengan para volunteer ke Desa Jambu Baru Kecamatan Kuripan. Kami berangkat pada pukul 09.00 pagi dan tiba pada pukul 13.00 siang. Kami menurunkan barang-barang pribadi serta divisi beserta konsumsi, karena banyak yang mengikuti Sosiologi Mengabdi maka kami membagi menjadi 3 buah rumah, rumah 1 dan 2 untuk perempuan dan rumah 3 untuk laki-laki. Hari pertama kami lalui dengan membersihkan rumah dan menyusun barang-barang serta menyiapkan makan malam, untuk memasak konsumsi kami menggunakan sistem jadwal piket yang sudah ditentukan oleh koordinator konsumsi sendiri.

            Lalu pada hari kedua, tanggal 16 juli. Di subuh hari, beberapa dari kami menuju masjid yang ada di Desa Jambu Baru untuk melaksanakan sholat berjamaah, kemudian bagi yang sudah terkena jadwal piket maka sudah bisa mulai memasak sesuai dengan menu yang sudah diterapkan, setelah makan mereka bersiap untuk melakukan kegiatan pertama atau output pertama sesuai dengan apa yang sudah dibawakan oleh divisi nya masing-masing. Untuk Koor lapangan serta ketua pelaksana dapat ikut berbaur dengan divisi yang lain, sedangkan penanggung jawab, sekretaris pelaksana, bendahara pelaksana, serta kepala divisi sosial masyarakat sendiri dapat membersihkan rumah serta memasak untuk makan siang.

            Sekitar pukul 12.00 siang kami semua berkumpul pada rumah 1 untuk makan siang dan koordinator lapangan memberi waktu ishoma sampai pukul 14.00 siang, setelah mencuci piring kami beristirahat sejenak kemudian melanjutkan kegiatan lagi hingga petang. Lalu kami mempersiapkan untuk makan malam serta melaksanakan evaluasi di hari kedua.

Pada hari ketiga tanggal 17 Juli, saya mengikuti Divisi PSDM menyiapkan makanan ringan untuk para tamu undangan dalam acara sosialisasi dengan tema “Pengembangan Sumber Daya Alam Desa Jambu Baru Untuk Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Lokal”. Setelah konsumsi sudah siap, kami membawa nya ke balai desa tempat acara sosialisasi dilaksanakan. Banyak warga yang datang dan di dominasi oleh perempuan, beberapa dari mereka memuji masakan yang sudah disediakan.

Pada hari keempat tanggal 18 Juli, saya mengikuti kegiatan Divisi Pendidikan, mereka mulai menyiapkan serta menyusun buku untuk salah satu output mereka yaitu membuat pojok baca untuk anak-anak di Sekolah Dasar Jambu Baru 1.  Saya pun ikut masuk ke beberapa kelas untuk membagikan buku-buku kepada para murid yang ada disana dari kelas 1 hingga kelas 6. Saya merasa senang bertemu serta saling berinteraksi dengan anak-anak disana, setelah membagikan buku, Divisi Pendidikan juga membuat mading dari kertas karton.

Pada hari kelima tanggal 19 Juli, beberapa dari panitia Sosiologi Mengabdi ikut senam bersama anak-anak yang sekolah di SDN Jambu Baru yang dipimpin oleh anggota dari Divisi Pendidikan itu sendiri. Kami membawakan 4 lagu yang dimainkan untuk senam pada pagi hari itu. Setelah melakukan senam, Divisi Lingkungan mengadakan gotong royong untuk membersihkan sekitaran lingkungan sekolah bersama beberapa murid juga.

Pada hari ke enam, panitia malam puncak menyiapkan banyak hal untuk acara malam puncak atau acara penutup dari Sosiologi Mengabdi. Pada waktu siang hari ada warga yang mengundang kami untuk makan di rumah beliau karena sedang mengadakan acara. Setelah makan kami lanjut menyiapkan acara malam puncak. Untuk para penampil, pada siang hari pukul 14.00 mereka melakukan gladi bersih di Sekolah Dasar Jambu Baru 1. Pada jam 16.00 sore, para penampil melakukan persiapan bersama beberapa panitia malam puncak. Sehabis maghrib semua penampil dan panitia berkumpul di tempat acara malam puncak. Acara malam itu sangat meriah dan itu merupakan hal yang akan saya ingat.

Pengalaman lainnya yang begitu berkesan selama seminggu juga ditemukan saat menyediakan konsumsi 3x sehari dengan membagi jadwal piket masak masing-masing panitia kedapatan 2x memasak selama seminggu. Dihari pertama masih menyesuaikan dengan suasana disana yang mana awal-awal  tidak tau memasak nasi menggunakan panci besar. Disana kami menempati 3 rumah. rumah 1 yang jadi tempat untuk memasak, yang mana panitia yang kena jadwal memasak dari rumah 2 dan 3 setiap subuh selalu mengetok pintu dan tentu saja panitia yang tidur di rumah 1 setiap harinya mendengar kan suara langkah kaki yang gelebakan. adapun halangan saat menyediakan makanan yaitu air dirumah 1 tidak mengalir di setiap subuh, terpaksa kami pergi kerumah Acil di depan dan membawa galon beserta panci besar buat memasak nasi. Kami sangat berterimakasih kepada beliau, seandainya tidak ada air juga di tempat beliau makan pagi kami akan terhambat, beras tidak akan jadi nasi.

Di sisi lain, selama satu minggu saya terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Mulai dari mengajar di sekolah dasar hingga mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk ibu-ibu di desa, setiap momen memberi saya pengertian yang mendalam tentang kehidupan pedesaan dan nilai-nilai gotong royong. Melalui interaksi harian dengan penduduk desa, saya juga belajar menghargai kehidupan sederhana dan kebersamaan yang mereka miliki. Ini adalah pengalaman yang menginspirasi dan membuka mata saya tentang pentingnya pengabdian untuk memajukan masyarakat. Berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong bersama warga setempat mengajarkan saya betapa pentingnya kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Saya juga mendapat kesempatan untuk belajar tentang budaya lokal, tradisi, dan cara hidup mereka yang berbeda dengan lingkungan perkotaan tempat saya biasanya tinggal. Seluruh pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan saya, tetapi juga menguatkan tekad saya untuk terus berkontribusi dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

Kemudian dari sudut pandang yang lain juga diceritakan oleh Septi sebagai Bendahara Pelaksana. Pengalaman saya di Desa Jambu Baru selama 1 minggu disana adalah saya kadang merasa takut akan sesuatu yang belum terjadi. Namun, setelah disana selama seminggu saya merasa senang dan rasanya ingin menambah hari tinggal disana. Saya melihat anggota divisi melakukan kegiatan mereka dengan sungguh-sungguh walaupun beberapa di evaluasi tapi mereka tidak memasukkan ke hati, namun mereka tetap berusaha untuk memperbaiki diri dan mengambil pembelajaran dari apa yang sudah di evaluasi.

Disana kami sudah seperti keluarga, yang awalnya saya berpikir tidak bisa akrab dengan beberapa volunteer Sosiologi Mengabdi setelah mengabdi disana pikiran itu berubah, “jangan menilai buku dari covernya” ya kata-kata itu sangat benar adanya, yang awalnya saya mengira beberapa dari mereka tidak akan bisa menerima saya sebagai teman namun setelah beberapa hari disana kami menjadi akrab bahkan tidur dalam satu tempat. Saya merasa memiliki keluarga baru disana dan saya harap setelah ini kami masih bisa dekat dan saling sapa ketika diluar kampus bahkan dikampus sekalipun. Saya juga mau mengucapkan terimakasih untuk ibu di sebrang rumah kami yang membebaskan kami masuk rumah beliau untuk membersihkan diri dan meminjamkan kami mesin cuci setiap harinya, serta ibu warung yang tiap pagi memberikan kami teh hangat dan cemilan. Terimakasih kepada warga desa serta perangkat desa yang membantu kami dalam menjalankan kegiatan disana. Sekian dari saya terimakasih.

Postingan populer dari blog ini

PENGALAMAN MENGAJAR: MENUMBUHKAN KREATIVITAS ANAK SDN JAMBU BARU 1